Advertisement

Obat COVID-19

top computer

Selaras dengan pernyataan Presiden, Badan POM menyadari bahwa Indonesia memiliki kekayaan dan keanekaragaman hayati yang menjadi peluang besar untuk dikembangkan, dijadikan produk inovasi, dan diteliti sebagai upaya percepatan penanganan COVID-19. “Beberapa contoh herbal yang bisa dimanfaatkan antara lain kunyit, jahe merah, temulawak, meniran, jambu biji, daun sembung dan sambiloto, yang dapat dimanfaatkan sebagai imunomodulator,” ungkap Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito.

Memperkuat Daya Tahan Tubuh, dan Memelihara system imun Tubuh Menghadapi COVID-19: seri vitamin C, vitamin D, vitamin E, Probiotik, Zink, dan Selenium dalam Menghadapi Pandemi COVID-19.

Anti Virus
- Favipiravir
- Oseltamivir
- Remdesivir

Antiinflamasi
- Tosilizumab
- Deksametason
- Siklesonid

Antikoagulan akan dimasukkan
- Heparin
- Enoksaparin

Antibiotika
- Azitromisin
- Levofloksasin
- Meropenem
- Sefotaksim

Analgesik non-opioid
- Parasetamol

Agonis reseptor beta 2 selektif
- Salbutamol sulfat

Obat sistem saraf
- Midazolam

Pengencer dahak
- Asetilsistein

Imunoglobulin
- Vitamin C dan Vitamin E
- Ditambahkan Vitamin D

Terapi Ajuvan
- Plasma Konvalesen
- Sel Punca

Sedangkan ada 5 penambahan kategori obat, yakni :

  1. Anti inflamasi (Tosilizumab, Deksametason, Siklesonid)
  2. Antikoagulan (Heparin, Enoksaparin)
  3. Imunoglobulin
  4. Vitamin D
  5. Terapi adjuvan (plasma konvalesen, sel punca)

Sedangkan golongan obat lainnya tetap yakni

  1. antibiotik (Azitromisin, Levofloksasin, Meropenem, Sefotaksim)
  2. Analgesik non-opiod (parasetamol)
  3. Agonis reseptor beta 2 selektif (salbutamol sulfat)
  4. Obat sistem saraf (midazolam)
  5. Pengencer dahak (asetilsistein)
  6. Vitamin C dan Vitamin E

Melansir Healthline, berikut daftar obat-obatan tersebut:

1. Remdesivir

FDA hanya mengizinkan rumah sakit untuk memberikan obat antivirus ini kepada pasien Covid-19 dengan gejala yang parah.

Menurut data Mayo Clinic, obat ini sebenarnya digunakan untuk mengatasi virus ebola.

Kemudian, riset menunjukkan remdesivir dapat membantu mempercepat pemulihan pasien COVID-19.

FDA juga mengklaim obat ini tidak sepenuhnya aman untuk mengatasi pasien Covid-19 karena bisa menimbulkan peningkatan kadar enzim hati yang memicu kerusakan hati.

2. Chloroquine dan hydroxychloroquine

Obat ini sebenarnya digunakan untuk mengobati malaria dan beberapa jenis gangguan autoimun.

Obat ini sebenarnya dianggap kurang efektif untuk mengatasi pasien Covid-19 karena bukti ilmiah masih terbatas.

Mereka saat ini sedang diuji untuk melihat apakah mereka bisa efektif terhadap COVID-19, tetapi bukti sejauh ini terbatas.

Obat ini juga bisa menimbulkan menimbulkan berbagai efek samping, seperti gejala gastrointestinal dan risiko interaksi negatif dengan resep lain yang mungkin digunakan oleh pasien.

Risiko paling fatal dari penggunaan obat ini adalah gangguan irama jantung yang bisa menghambat aliran oksigen ke seluruh tubuh.

3. Ciclesonide (Alvesco)

Sampai sekarang, belum ada riset ilmiah yang cukup membuktikan obat ini efektif untuk pasien Covid-19.

Bahkan, obat untuk pasien asma ini bisa menimbulkan efek samping seperti iritasi mulut, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, gatal atau ruam kulit, nyeri sendi, dan sakit kepala.

4. Acetazolamide

Di beberapa negara, obat ini hanya dapat boleh digunakan untuk pengobatan hewan.

Obat ini biasanya digunakan untuk mengatasi glaukoma, kejangm mengendalikan kejang, atau penyakit ketinggian.

Bagi beberapa orang, obat ini bisa menimbulkan efek samping berbahaya seperti reaksi alergi, mati rasa, otot melemah, kesulitan bergerak, dan sensasi dering di telinga.

5. N-acetylcysteine

Obat ini biasanya dipakai untuk mengatasi penyakit pernapasan. Namun, belum ada riset ilmiah yang membuktikan obat ini efektif untuk pasien Covid-19.

Obat ini juga memiliki efek samping seperti menyebabkan sesak nafas, pembengkakan di area wajah, dan reaksi alergi.

6. Ivermectin

Obat ini digunakan untuk mengobati infeksi parasit sehinga dianggap ampuh untuk mengatasi Covid-19.

Tapi, hingga saat ini tidak ada uji klinis yang menunjukkan bahwa obat ini efektif untuk pasien Covid-19.

Obat ini juga bisa menimbulkan reaksi alergi, iritasi kulit, nyeri sendi, pembengkakan, dan demam.

7. Cetylpyridinium chloride

Obat ini biasanya digunakan untuk obat kumur dan produk-produk kesehatan gigi untuk membunuh kuman.

Namun, belum ada riset membuktikan obat ini bisa mengatasi atau mencegah Covid-19.

8. Favipiravir

Meskipun obat antivirus ini disetujui di Cina dan Jepang untuk mengobati influenza, sejauh ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa obat tersebut efektif mengatasi Covid-19.

Hingga kini masih dilakukan uji klinis untuk mengulik efektivitas dan efek samping dari obat ini.

9. Guaifenesin (Mucinex)

Beberapa dokter mungkin merekomendasikan obat batuk yang dijual bebas ini untuk membantu meredakan gejala ringan COVID-19.

Namun, obat ini tidak bisa fdigunakan untuk melawan virus penyebabnya.

10. Antibiotik

Antibiotik bekerja melawan infeksi bakteri, bukan infeksi virus seperti COVID-19. Tidak ada uji klini yang membuktikan obat ini mebisa mencegah Covid-19.