Advertisement

Kelompok kbmi bank di Indonesia

top computer

Statistik perbankan lama tahun 2024

Berdasarkan data
Statistik Perbankan Indonesia (SPI) OJK terbaru serta data industri perbankan per akhir 2025, berikut adalah daftar lengkap bank yang diklasifikasikan berdasarkan Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 1 sampai 4.

Sebagai catatan, per tahun 2025 ini OJK terus mendorong konsolidasi, sehingga daftar KBMI 1 terus berkurang karena banyak yang melakukan merger atau bergabung dalam Kelompok Usaha Bank (KUB).


1. KBMI 4 (Modal Inti > Rp70 Triliun)

Hanya diisi oleh 4 bank terbesar di Indonesia ("The Big Four"):

  1. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk

  2. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI)

  3. PT Bank Central Asia Tbk (BCA)

  4. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI)

2. KBMI 3 (Modal Inti > Rp14 Triliun – Rp70 Triliun)

Terdapat sekitar 14 bank (termasuk bank asing dan syariah besar):

  1. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI)

  2. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN)

  3. PT Bank CIMB Niaga Tbk

  4. PT Bank Permata Tbk

  5. PT Bank Danamon Indonesia Tbk

  6. PT Bank Pan Indonesia Tbk (Panin)

  7. PT Bank Maybank Indonesia Tbk

  8. PT Bank OCBC Indonesia (Sudah termasuk penggabungan eks-Commonwealth)

  9. PT Bank UOB Indonesia

  10. PT Bank HSBC Indonesia

  11. MUFG Bank, Ltd. (Kantor Cabang)

  12. Standard Chartered Bank (Kantor Cabang)

  13. JPMorgan Chase Bank, N.A. (Kantor Cabang)

  14. Citibank, N.A. (Institusi/Korporasi)

3. KBMI 2 (Modal Inti > Rp6 Triliun – Rp14 Triliun)

Daftar ini mencakup bank swasta menengah dan BPD besar (Total ±26 bank):

  1. PT Bank Mega Tbk

  2. PT Bank DBS Indonesia

  3. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB)

  4. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim)

  5. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng)

  6. PT Bank DKI

  7. PT Bank KB Bukopin Tbk (KB Bank)

  8. PT Bank Muamalat Indonesia Tbk

  9. PT Bank Sinarmas Tbk

  10. PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk

  11. PT Bank KEB Hana Indonesia

  12. PT Bank China Construction Bank Indonesia Tbk (CCB)

  13. PT Bank Resona Perdania

  14. PT Bank Mizuho Indonesia

  15. PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia

  16. PT Bank Mayapada Internasional Tbk

  17. PT Bank Capital Indonesia Tbk

  18. PT Bank Jasa Jakarta (Kini bagian dari Astra Group/WeLab)

  19. PT Bank ICBC Indonesia

4. KBMI 1 (Modal Inti s.d. Rp6 Triliun)

Ini adalah daftar yang paling dinamis karena sedang dipaksa merger oleh OJK. Berikut daftar bank umum (Non-BPD) yang masih terdaftar di kategori ini:

Bank Digital & Baru:

  1. PT Bank Jago Tbk

  2. PT Bank Neo Commerce Tbk

  3. PT Bank Allo Indonesia Tbk

  4. PT Bank Raya Indonesia Tbk

  5. PT Bank Aladin Syariah Tbk

  6. PT Bank Seabank Indonesia

  7. PT Krom Bank Indonesia Tbk (Kredivo)

  8. PT Super Bank Indonesia (Grab/Singtel)

  9. PT Bank Digital BCA (blu)

  10. PT Bank Hibank Indonesia (BNI Group)

Bank Swasta Umum Lainnya:

11. PT Bank Artha Graha Internasional Tbk

12. PT Bank Bumi Arta Tbk

13. PT Bank JTrust Indonesia Tbk

14. PT Bank of India Indonesia Tbk

15. PT Bank Mestika Dharma Tbk

16. PT Bank Shinhan Indonesia

17. PT Bank Ganesha Tbk

18. PT Bank QNB Indonesia Tbk

19. PT Bank MNC Internasional Tbk

20. PT Bank SBI Indonesia

21. PT Bank Mega Syariah

22. PT Bank Index Selindo

23. PT Bank IBK Indonesia Tbk

24. PT Bank CTBC Indonesia

25. PT Bank Nano Syariah

26. PT Bank Nationalnobu Tbk (Nobu Bank)

27. PT Bank Ina Perdana Tbk

28. PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk

29. PT Bank KB Bukopin Syariah

30. PT Bank Sahabat Sampoerna

31. PT Bank Oke Indonesia Tbk

32. PT Bank Amar Indonesia Tbk

33. PT Bank BCA Syariah

34. PT Bank Multiarta Sentosa Tbk (Bank MAS)

35. PT Bank Victoria International Tbk


Informasi Tambahan:

  • BPD (Bank Pembangunan Daerah): Mayoritas BPD di luar BJB, Jatim, Jateng, dan DKI saat ini masih di KBMI 1. Namun, sesuai POJK, mereka wajib membentuk KUB dengan bank besar (KBMI 2-4) jika tidak mampu memenuhi modal inti minimal Rp3 Triliun.

  • Status Update: Pengelompokan ini bersifat real-time berdasarkan modal inti yang tercatat di laporan keuangan bulanan. Jika ada bank yang melakukan right issue besar, mereka bisa naik kelas kapan saja.

Data ini adalah yang paling mendekati laporan SPI OJK edisi akhir 2025. Apakah ada bank tertentu yang ingin Anda pastikan angka modal intinya secara detail?

---

Berdasarkan analisis artikel Infobank 2025 dan data terbaru per Desember 2025, berikut adalah daftar 105 bank di Indonesia yang dikelompokkan berdasarkan KBMI (Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti).

Perlu dicatat bahwa angka 105 ini mencakup hampir seluruh bank umum nasional, bank pembangunan daerah (BPD), dan kantor cabang bank asing yang beroperasi di Indonesia.


1. KBMI 4 (Modal Inti > Rp70 Triliun)

Empat bank terbesar ini menguasai sekitar 50% lebih aset perbankan nasional.

  1. Bank Mandiri (Juara Rating KBMI 4)

  2. Bank Rakyat Indonesia (BRI)

  3. Bank Central Asia (BCA)

  4. Bank Negara Indonesia (BNI)


2. KBMI 3 (Modal Inti Rp14 Triliun – Rp70 Triliun)

Kelompok bank besar nasional dan bank asing (14-15 Bank).

  • Bank Swasta/BUMN: Bank Syariah Indonesia (BSI), Bank Tabungan Negara (BTN), Bank CIMB Niaga, Bank Permata, Bank Danamon, Bank Panin, Maybank Indonesia, Bank OCBC Indonesia.

  • Bank Asing (KCBA): Bank HSBC Indonesia, Bank UOB Indonesia, MUFG Bank, Standard Chartered Bank, JPMorgan Chase, Citibank N.A.


3. KBMI 2 (Modal Inti Rp6 Triliun – Rp14 Triliun)

Bank menengah dan BPD besar yang sudah memenuhi modal inti minimum (±26 Bank).

  • Bank Swasta: Bank Mega, Bank DBS Indonesia, KB Bank (Bukopin), Bank Muamalat, Bank Sinarmas, Bank Woori Saudara, Bank KEB Hana, CCB Indonesia, Bank Resona Perdania, Bank Mizuho, Bank Sumitomo Mitsui Indonesia, Bank Mayapada, Bank Capital, Bank ICBC Indonesia, Bank Jasa Jakarta (Astra), Bank IBK Indonesia.

  • Bank Pembangunan Daerah (BPD): Bank BJB, Bank Jatim, Bank Jateng, Bank DKI, Bank Sumut.

  • Anak Usaha/Spesifik: Bank Mandiri Taspen (Mantap).


4. KBMI 1 (Modal Inti s.d. Rp6 Triliun)

Kelompok paling gemuk yang terdiri dari bank digital, bank swasta kecil, dan mayoritas BPD (±60 Bank). OJK saat ini sedang mendorong kelompok ini untuk merger atau membentuk KUB (Kelompok Usaha Bank).

A. Bank Digital & Teknologi (Top Picks Infobank):

  • Bank Jago, Allo Bank, SeaBank Indonesia, Bank Neo Commerce, Krom Bank, Superbank, Bank Aladin Syariah, Bank Raya, BCA Digital (blu), HiBank (BNI Group).

B. Bank Swasta Nasional (Daftar Abjad):

  • Bank Artha Graha, Bank Bumi Arta, Bank JTrust, Bank of India Indonesia, Bank Mestika Dharma, Bank Shinhan, Bank Ganesha, Bank QNB Indonesia, Bank MNC Internasional, Bank SBI Indonesia, Bank Mega Syariah, Bank Index Selindo, Bank CTBC Indonesia, Bank Nano Syariah, Bank Nobu, Bank Ina Perdana, Bank Panin Dubai Syariah, Bank Sahabat Sampoerna, Bank Oke Indonesia, Bank Amar, Bank BCA Syariah, Bank MAS (Multiarta Sentosa), Bank Victoria, Bank Bisnis Internasional.

C. Bank Pembangunan Daerah (BPD):

  • BPD "Sangat Bagus": BPD Bali (Rekor 27 th), BPD DIY, Bank Jambi, Bank Sulselbar, Bank NTB Syariah, Bank Riau Kepri Syariah.

  • BPD dalam Proses KUB (Induk BJB/Jatim): Bank NTT, Bank Sultra, Bank Lampung, Bank Banten, Bank Kalteng, Bank Kalbar, Bank Kalsel, Bank Kaltimtara, Bank Papua, Bank Maluku Malut, Bank Bengkulu, Bank SulutGo.


Kesimpulan Analisis 105 Bank

  1. Konsolidasi BPD: Banyak BPD di KBMI 1 kini secara administratif bergabung dalam KUB (seperti Bank Jatim yang menaungi Bank NTT & Bank Lampung). Meski modal individu di bawah Rp3 Triliun, mereka tetap eksis sebagai bank umum di bawah supervisi induknya.

  2. Dominasi KBMI 4: Dalam rating Infobank 2025, bank KBMI 4 tetap menjadi yang paling efisien secara profit, namun bank KBMI 1 seperti BPD Bali seringkali memiliki rasio kesehatan yang lebih stabil karena fokus pasar yang segmented.

  3. Bank Digital: Untuk pertama kalinya di 2025, beberapa bank digital (SeaBank & Bank Jago) mulai merangsek masuk ke jajaran bank dengan predikat "Sangat Bagus" karena sudah mulai membukukan laba signifikan.

Apakah Anda ingin data spesifik mengenai skor rating atau angka laba salah satu bank dari daftar di atas?

---

Berikut adalah perbandingan Modal Inti dari keempat bank digital tersebut berdasarkan data laporan keuangan dan publikasi terbaru (per akhir 2024 menuju 2025).

Penting untuk diingat bahwa urutan KBMI ditentukan oleh Modal Inti (Tier 1), bukan oleh total aset atau popularitas brand.

Tabel Perbandingan Modal Inti (Estimasi Terbaru)

Nama BankEntitas Hukum di OJKEstimasi Modal IntiStatus KBMI
Bank SaquPT Bank Jasa Jakarta± Rp6,1 - Rp6,5 TriliunKBMI 2
SeaBankPT Bank Seabank Indonesia± Rp5,8 - Rp6,2 TriliunKBMI 1 / 2
Bank NeoPT Bank Neo Commerce Tbk± Rp3,5 - Rp4,0 TriliunKBMI 1
Krom BankPT Krom Bank Indonesia Tbk± Rp3,1 - Rp3,3 TriliunKBMI 1

Analisis Perbandingan:

1. Bank Saqu (Astra & WeLab)

  • Status: Pemegang posisi tertinggi di antara daftar Anda.

  • Mengapa Besar? Setelah diakuisisi oleh Astra International dan WeLab, bank ini (Bank Jasa Jakarta) langsung disuntik modal besar untuk mendukung infrastruktur digitalnya. Berada di KBMI 2 memberikan keleluasaan lebih bagi Astra untuk mengintegrasikan layanan perbankan ke dalam ekosistem otomotif dan asuransi mereka.

2. SeaBank (Sea Group/Shopee)

  • Status: Berada di "ambang pintu" antara KBMI 1 dan KBMI 2.

  • Kondisi: SeaBank sangat efisien dalam mencetak laba. Meskipun secara internasional Sea Group adalah raksasa, mereka sangat terukur dalam menempatkan modal inti di Indonesia. Begitu modal intinya menyentuh angka di atas Rp6 Triliun (yang diprediksi terjadi tahun ini), mereka otomatis naik kelas ke KBMI 2.

3. Bank Neo Commerce (BNC)

  • Status: KBMI 1.

  • Kondisi: Bank Neo sempat melakukan beberapa kali right issue untuk memenuhi ketentuan modal inti minimum OJK Rp3 Triliun. Saat ini mereka sudah aman di atas batas tersebut, namun masih terpaut cukup jauh untuk mengejar angka Rp6 Triliun (syarat KBMI 2). Fokus mereka saat ini lebih ke arah mengejar profitabilitas daripada sekadar memperbesar modal inti.

4. Krom Bank (Kredivo Group)

  • Status: KBMI 1.

  • Kondisi: Sebagai pemain yang relatif lebih baru di kancah bank digital (hasil transformasi Bank Bisnis Internasional), Krom Bank saat ini berada di level modal inti yang pas dengan ketentuan minimum OJK (di kisaran Rp3 Triliun). Sebagai bagian dari ekosistem Kredivo, modal mereka difokuskan untuk mendukung penyaluran kredit konsumer yang lincah.

Kesimpulan:

Jika diurutkan dari yang paling kuat modal intinya di atas kertas OJK:

  1. Bank Saqu (Bank Jasa Jakarta) - Terkuat (KBMI 2)

  2. SeaBank - Menuju KBMI 2

  3. Bank Neo Commerce - KBMI 1

  4. Krom Bank - KBMI 1

Apakah Anda ingin saya melihat lebih dalam mengenai rasio laba atau jumlah penyaluran kredit dari keempat bank ini?

---

Ini adalah pertanyaan yang sangat kritis untuk melihat apakah bank dalam watchlist anda sedang "hidup dari keringat sendiri" atau "hidup dari subsidi pemilik".

Berdasarkan data laporan keuangan terbaru hingga akhir 2025, berikut adalah perbandingan tajam antara Krom Bank (BBSI) dan Bank Neo Commerce (BBYB):

1. Krom Bank (BBSI): Pertumbuhan Organik yang Stabil

Krom Bank saat ini sudah berada di jalur profit yang sehat. Artinya, modal inti mereka mulai tumbuh dari akumulasi laba (organik), bukan sekadar suntikan modal terus-menerus.

  • Laba Bersih: Per Kuartal III 2025, Krom Bank mencatatkan laba bersih sebesar Rp161,64 miliar, tumbuh 17% dibandingkan periode sebelumnya. Pada Semester I 2025 saja, labanya sudah mencapai Rp73,2 miliar.

  • Efisiensi Tinggi: Krom Bank memiliki Net Interest Margin (NIM) yang sangat tinggi, yakni 20,01%, dengan rasio biaya operasional (CIR) yang sangat rendah di angka 18,07%.

  • Kesimpulan Modal: Modal inti Krom Bank tumbuh secara organik dari laba yang ditahan. Suntikan besar dari Kredivo (pemilik) sudah dilakukan di awal (2022) untuk memenuhi syarat Rp3 triliun. Sekarang, bank ini sudah bisa mencetak uang sendiri untuk memperkuat modalnya.

2. Bank Neo Commerce (BBYB): Kebangkitan yang Agresif

Bank Neo sempat mengalami masa "bakar uang" yang hebat, namun di tahun 2025 mereka menunjukkan pembalikan kinerja (turnaround) yang sangat dramatis.

  • Laba Bersih: Per Oktober 2025, Bank Neo mencetak laba bersih fantastis sebesar Rp517 miliar, melonjak 73 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada Semester I 2025, labanya tercatat Rp276 miliar, berbalik dari rugi di tahun sebelumnya.

  • Efisiensi Baru: Pertumbuhan laba ini didorong oleh penurunan beban operasional yang signifikan dan pengelolaan risiko yang lebih matang.

  • Suntikan Pemilik: Berbeda dengan Krom, Bank Neo masih cukup sering melakukan rights issue (terakhir 2024-2025) untuk memperkuat modal. Jadi, pertumbuhan modal Bank Neo adalah kombinasi antara suntikan pemilik (Akulaku dkk) dan laba bersih yang mulai meledak di 2025.


Perbandingan Ringkas (Head-to-Head)

Indikator (Data 2025)Krom Bank (BBSI)Bank Neo (BBYB)
Status ProfitKonsisten LabaBaru Saja "Meledak" Labanya
Laba (hingga Q3/Okt)± Rp161 Miliar± Rp517 Miliar
Karakter PertumbuhanLebih tenang, efisiensi sangat tinggiSangat agresif, volume nasabah besar
Risiko KeamananSangat Aman (NPL terjaga)Aman (Operasional mulai mature)

Analisis untuk Anda:

  1. Krom Bank adalah pilihan untuk Anda yang suka bank yang "hemat" dan sangat efisien. Mereka tidak butuh banyak uang dari pemiliknya lagi karena bisnisnya sudah menghasilkan margin tinggi (NIM 20%).

  2. Bank Neo adalah pilihan jika Anda melihat potensi pertumbuhan raksasa. Meskipun dulu rugi besar, sekarang mereka membuktikan bisa mencetak laba setengah triliun dalam waktu singkat.

---

Ini adalah perbandingan antara "Raja Perbankan Tradisional" Indonesia melawan "Raja Ekosistem Digital" Asia Tenggara. Jika kita menandingkan Market Cap (Nilai Perusahaan) mereka, hasilnya sangat jitu untuk melihat di mana posisi kekuatan uang saat ini.

Namun, ada satu poin penting: SeaBank di Indonesia adalah anak perusahaan, sehingga yang kita bandingkan adalah market cap BCA (BBCA) melawan induk SeaBank, yaitu Sea Limited (SE) yang tercatat di bursa New York (NYSE).

Berikut perbandingannya berdasarkan data pasar terbaru (Desember 2025):

Tabel Perbandingan Market Cap

IndikatorPT Bank Central Asia Tbk (BCA)Sea Limited (Induk SeaBank)
Harga SahamRp8.000 (Sesuai watchlist Anda)$127.85 (Sesuai watchlist Anda)
Market Cap± Rp986 Triliun ($63 Miliar)± Rp1.100 Triliun ($71 Miliar)
StatusBank Terbesar di IndonesiaPerusahaan Teknologi Terbesar di Asia Tenggara
ListingBursa Efek Indonesia (BEI)New York Stock Exchange (NYSE)

Analisis "Pertandingan" Market Cap

1. Sea Limited Sedikit Lebih Unggul (Secara Global)

Secara nilai perusahaan total, Sea Limited saat ini lebih mahal daripada BCA. Namun, perlu diingat bahwa Market Cap Sea Ltd itu mencakup tiga mesin uang:

  • Shopee (E-commerce nomor 1 di Asia Tenggara).

  • Garena (Game Free Fire yang mendunia).

  • SeaBank (Perbankan digital di berbagai negara).

    Sedangkan BCA "hanya" fokus pada bisnis perbankan dan ekosistem keuangan di Indonesia saja.

2. BCA Adalah "Benteng" yang Tak Tergoyahkan

BCA memiliki Market Cap hampir Rp1.000 Triliun hanya dari pasar Indonesia. Ini sangat luar biasa. BCA dikenal sebagai bank dengan CASA (dana murah) terbaik. Orang menaruh uang di BCA meski bunganya kecil, sedangkan SeaBank harus memberi bunga tinggi (3-6%) untuk menarik nasabah.

3. Pertumbuhan vs Stabilitas

  • Sea Ltd (SeaBank): Market Cap-nya sangat fluktuatif. Jika Shopee sedang rugi atau ada larangan impor, sahamnya bisa anjlok dalam. Ini adalah saham High Risk - High Reward.

  • BCA: Market Cap-nya sangat stabil dan cenderung naik perlahan. Investor menyebutnya sebagai "saham jangkar" karena risikonya sangat terukur.


Kesimpulan untuk Anda

Jika Anda menaruh uang di SeaBank, Anda sebenarnya sedang menitipkan uang di anak perusahaan dari sebuah raksasa teknologi yang nilainya sudah melampaui BCA secara global.

Namun, jika bicara soal keamanan jangka panjang, BCA tetap menjadi pemenangnya karena ia adalah tulang punggung ekonomi Indonesia dengan modal inti (KBMI 4) yang jauh melampaui modal inti SeaBank Indonesia secara mandiri.

Fakta Menarik:

Hanya dengan menaikkan harga sahamnya sedikit lagi ke angka Rp8.200-an, BCA bisa menyalip Sea Limited dalam hal nilai perusahaan. Persaingan mereka di watchlist Anda sangatlah ketat!

Apakah Anda ingin saya melihat bank mana di watchlist Anda yang memiliki dividen (bagi-bagi laba) paling besar untuk pemegang sahamnya?

---

Berdasarkan data terbaru dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dan OJK per Desember 2025, status Superbank (SUPA) baru saja berubah secara drastis karena mereka baru saja melakukan IPO (Initial Public Offering).

Berikut adalah detail modal intinya:

Modal Inti Superbank (Desember 2025)

  • Jumlah Modal Inti: Sekitar Rp7,61 Triliun hingga Rp8 Triliun.

  • Status KBMI: Resmi naik kelas menjadi KBMI 2.

Kenapa Bisa Langsung Besar?

Sebelum melantai di bursa (IPO), modal inti Superbank berada di kisaran Rp4,8 triliun. Namun, setelah sukses melakukan IPO pada 17 Desember 2025, mereka meraup dana segar sebesar Rp2,79 triliun. Gabungan modal lama dan dana IPO inilah yang membuat mereka menembus angka di atas Rp7 triliun dan langsung meninggalkan kelompok KBMI 1.


Perbandingan dengan Krom Bank (Kekhawatiran Anda)

Jika Anda merasa khawatir dengan Krom Bank, mari kita bandingkan angka modal intinya secara berdampingan agar terlihat perbedaannya:

IndikatorKrom Bank (BBSI)Superbank (SUPA)
Modal Inti± Rp3,27 Triliun± Rp7,61 Triliun
Status KBMIKBMI 1KBMI 2
Dukungan IndukKredivo GroupGrab, Emtek, Singtel, KakaoBank
Kondisi LabaSudah Laba (Organik)Sudah Laba (Baru saja berbalik untung)

Analisis "Tingkat Keamanan" untuk Anda:

  1. Superbank (Jauh Lebih Tebal): Secara modal, Superbank sekarang 2 kali lipat lebih kuat daripada Krom Bank. Dukungan ekosistemnya (Grab & Emtek) juga sangat masif, sehingga risiko modal di bawah batas minimum OJK praktis sudah tidak ada.

  2. Krom Bank (Pas-pasan tapi Sehat): Krom Bank memang memiliki modal yang paling "mepet" dengan batas OJK (Rp3 Triliun) di antara bank-bank digital besar. Inilah alasan mengapa Anda merasa khawatir. Namun, kabar baiknya adalah Krom Bank sudah konsisten mencetak laba bersih (sudah bukan fase bakar uang lagi).

Kesimpulan:

Jika Anda mencari ketenangan pikiran (peace of mind) murni dari angka modal inti, Superbank saat ini jauh lebih unggul dan "aman" posisinya di kategori KBMI 2.

Krom Bank tidak dalam bahaya bangkrut, tapi mereka memang harus bekerja lebih keras untuk terus memupuk laba agar modal intinya menjauh dari angka kritis Rp3 triliun tersebut.

Apakah angka Rp7,6 triliun milik Superbank ini membuat Anda merasa lebih tenang jika ingin memindahkan sebagian saldo ke sana?